Showing posts with label Pendidikan. Show all posts
Showing posts with label Pendidikan. Show all posts

Guru Berkompeten Harus Menguasai Kurikulum 2013

Guru Berkompeten Menguasai K13

Oleh: Ftri Nurhayati

Guru Berkompeten Harus Menguasai Kurikulum 2013


Beberapa tahun lalu, kita masih bisa menjumpai anak SD yang menggendong tas berisi buku-buku sekolah. Mulai dari buku tulis, buku paket, LKS, sampai sumber belajar lain yang dikemas menjadi satu dalam tas mereka. Mungkin tas mereka berat, seberat tuntutan ilmu yang harus dikuasai. Namun, hal seperti itu sudah jarang dijumpai sekarang. Dalam tas anak SD sekarang, paling hanya berisi satu atau dua buku yang sudah mencakup beberapa mata pelajaran. Bisa dibayangkan betapa padatnya isi buku baru mereka ini.

Hal ini terjadi di beberapa sekolah yang sudah  menerapkan Kurikulum 2013 (K13). Konsep pembelajaran tematik mengacu pada tema-tema tertentu sehingga beberapa mata pelajaran dikerucutkan menjadi satu pembahasan atau satu buku saja. Berbeda dengan pembelajaran di SD, pembelajaran di SMA tidak menerapkan pembelajaran tematik namun menerapkan konsep based-learning. Dalam konsep ini, peserta didik harus aktif di dalam kelas untuk menguasai tertentu.

Menurut Nurhadi, M.Si (Dosen Pendidikan Geografi-red), K13 adalah kurikulum yang istimewa. Seistimewa konsepnya, tingkat kerumitannya pun sepadan. Mulai dari persiapan guru sebelum melakukan pembelajaran, sampai pada tahap penilaian. Keaktifan siswa menjadi tujuan utama untuk membentuk karakter mereka. Diharapkan ketika terjun di masyarakat nanti, mereka sudah memiliki sifat jujur, disiplin, dan mandiri.

Berbicara soal pendidikan di Indonesia, masih ada 1001 masalah yang menyelimuti. Beragam solusi ditawarkan pemerintah untuk mengatasi permasalahan ini. Satu diantaranya adalah melalui K13 yang berbasis karakter. Entah karakter seperti apa yang dimaksudkan karena sejauh ini para pelakunya pun masih meraba-raba. Hasilnya pun belum, nampak jelas. Apalagi hanya beberapa sekolah yang menyatakan siap menerapkan K13, sedang yang lainnya masih dengan kurikulum sebelumnya (KTSP-red). Seperti yang tercantum dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 160 Tahun 2014 tentang Pemberlakuan Kurikulum Tahun 2006 dan Kurikulum 2013, tidak semua sekolah siap untuk merubah mindset, pola, dan konsep mengajar.

Ki Hadjar Dewantara, Bapak Pendidikan Indonesia, pernah berujar bahwa pendidik hanya bisa merawat, bukan memaksa. Tapi pemerintah saat ini kesannya seperti memaksakan penyeragaman anak sekolah di Indonesia. Jika diperhatikan secara mendasar, sebenarnya bukan persoalan kurikulum yang perlu dipusingkan sebagai tawaran solusi mengatasi masalah pendidikan. Pada kenyataannya, yang paling memiliki pengaruh dalam memajukan pendidikan dan mencerdaskan anak-anak bangsa adalah guru.

Di balik pembicaraan soal sistem yang rumit, kurikulum, peraturan menteri, seminar yang berderet, bahkan alokasi dana pendidikan yang mencapai 20 persen, sejatinya guru lah yang berdiri di depan kelas menemani anak-anak menuntut ilmu. Namun begitu, melihat guru di Indonesia pun tak terlepas dari berbagai masalah. Mulai dari pendistribusian guru yang tidak merata, kesejahteraannya yang tidak terjamin, hingga yang paling urgent adalah kompetensi guru yang masih perlu ditingkatkan. Kalau sudah begini, bagaimana akan tercapai proses pembelajaran yang baik jika K13 belum betul-betul dikuasai para guru. Pemerintah hendaknya menjamin kompetensi guru, mempersiapkannya agar benar-benar mampu dan siap mendidik. Hadirnya mereka di sekolah bukan hanya mengajar, namun juga memberi inspirasi siswa.

Pada kurikulum yang baru ini, peran utama guru adalah sebagai fasilitator di dalam kelas. Salah besar jika banyak orang menganggap bahwa peran guru di dalam kelas lebih ringan dari yang sebelumnya. Pada prinsipnya, menjadi fasilitator tugasnya jauh lebih berat. Guru tidak hanya bertanggungjawab meningkatkan aspek pengetahuan saja, namun juga harus mempertimbangkan aspek spiritual, sosial, dan keterampilan anak. Maka hendaknya pemerintah mematangkan kompetensi guru demi lancarnya proses pembelajaran di kelas. (*)

Ini Penting Bagi Pendidik, Lingkungan Sebagai Alternatif Dalam Pembelajaran

Lingkungan Sebagai Alternatif Pembelajaran

Lingkungan Sebagai Alternatif Dalam Pembelajaran

Kemanakah perginya anak-anak para pemimpin sejati anak-anak dan cucu dari founding father pendiri dari negeri ini? Kemanakah perginya manusia-manusia pembelajar serta guru-guru bangsa? Jadi apakah ruginya negeri ini jika sekolah-sekolah di bubarkan? bukankah pembelajaran bisa terjadi dimana saja bahkan di dalam lipatan-lipatan kecil di atas meja. Lihatlah kurikulum pendidikan mereka di tingkat sekolah dasar sama sekali tidak menjawab kebutuhan mereka. Kehidupan dari anak-anak yang tinggal di pemukiman kumuh, bersama sampah-sampah yang membanjiri sungai-sungai di kota besar. Para bibit-bibit muda tidak mampu mencerna audio-visual yang ditelannya bulat-bulat, apalagi dengan berjamurnya supermarket yang menampakkan matrealisme gaya hidup konsumtif. Semua itu tidak ada dalam kurikulum formal seperti yang dikatakan oleh Andrias Harefa "Kita tidak pernah tau mengapa sekolah maupun universitas tidak pernah membuat orang menjadi terbuka pikirannya apalagi yang peka nuraninya". Lingkungan sangat berpengaruh atas pribadi kita dan kita akan dipertanggungjawabkan atas segalanya. Pendidikan bukan hanya di gedung sekolah atau perguruan tinggi tetapi yang lebih penting lagi dalam konteks kehidupan.

Kualitas pendidikan di Indonesia sungguh masih sangat memprihatinkan, berdasarkan hasil studi kemampuan membaca untuk tingkat SD yang dilaksanakan oleh organisasi Internasional Educational Achievement (IEA) bahwa di Indonesia berada di urutan ke 38 dari 39 negara peserta studi. Karena sesungguhnya pembelajaran bisa terjadi di setiap hal tidak terikat ruang dan waktu. Pendidikan alternatif adalah salah satu bagian dari sistem pembelajaran dengan lingkungan sebagai media pembelajaran. Pembelajaran ini adalah jawaban dari kebingungan mereka para anak-anak bangsa yang kesulitan mendapatkan fasilitas media pembelajaran karena keterbatasan biaya. Pembelajaran alternatif bisa dilakukan di tempat yang berhadapan langsung dengan media pembelajaran yang nyata yaitu kondisi atau pun keadaan lingkungannya.

Di kota-kota besar sudah banyak komunitas-komunitas pemerhati lingkungan serta pendidikan yang peka akan kebutuhan bangsa ini. Merekalah para pahlawan-pahlawan di era IPTEK. Adalah hal yang tidak mustahil jika di lingkungan pedesaan pun mendirikan pendidikan-pendidikan alternatif. Misalnya saja bukan hanya bagi mereka yang putus sekolah tetapi anak bangsa yang sudah merasakan nikmatnya pendidikan yang tertelan bulat-bulat bisa lebih diarahkan. Menjadikan lingkungan sebagai tempat atau media pembelajaran, mengajak mereka terjun langsung mengatasi berbagai persoalan lingkungan. Aliran selokan yang dipenuhi sampah, bisa dijadikan alternatif pembelajar. Sehingga mereka bisa mengetahui limbah seperti apa yang bisa dimanfaatkan serta cara yang tepat mengatasi kerusakan lingkungan. Mereka boleh bertanya tentang apa saja yang dilihat dan di dengar, jawabannya akan didiskusikan oleh sang guru langsung di tempat ketika pertanyaan itu diajukan. Karena setiap tempat adalah sekolah dan setiap orang adalah guru, oleh pendidikan tidak terikat oleh lembaga formal yang menina-bobokan anak-anak.

Pendidikan alternatif berperinsip memakai kacamata anak dalam berbagai hal, bukan kacamata orang dewasa, karena biasanya orang dewasa selalu memaksakan kacamatanya kepada anak.

Kerinduan kepada mereka anak-anak miskin, pinggiran serta anak kampung adalah kritis, cerdas, kreatif serta tidak mudah putus asa. Pembelajaran alternatif berbasis lingkungan harus menghadirkan citra rumah, persaudaraan, partisipasi yang terbuka dan spontan. Tulisan Kleden berhasil menjelaskan antara perbedaan pengetahuan dan lembaga-lembaga pengajaran seperti sekolah dan universitas dengan pelatihan skill. Sesuatu yang bersifat keterampilan bisa di dapatkan bukan hanya dengan mengakumulasi pengetahuan. Sekolah dan . universitas ternyata sukses dalam satu kali mencetak manusia-manusia yang menjadi tua. Akan tetapi tidak sungguh-sungguh menjadi dewasa. Pendidikan dan pembelajaran adalah soal kepemimpinan tidak ada sekolah dan kursusnya kecuali kehidupan nyata itu sendiri.

Terkendala Saat Mengajar Karena Muridku Susah Berbahasa Indonesia

Muridku Susah Berbahasa Indonesia

Oleh: Endar Susanti

Bahasa Persatuan Indonesia

BAHASA Indonesia adalah bahasa persatuan. Bahasa universal penduduk tanah ini untuk berbicara, berkomunikasi. Karena menjadi bahasa nasional, maka sejak kecil, anak-anak sudah mempelajari bahasa Indonesia.

Selain bahasa Indonesia, tanah ini juga memiliki bahasa ibu yang melekat pada tiap-tiap yang lahir. Tak cukup dua atau sepuluh, tapi ratusan. Dituturkan secara turun-temurun, dari generasi satu ke generasi setelahnya. Inilah yang memperkaya ragam bahasa di tanah ini. Juga sekaligus menjadi alasan, tak setiap penduduk bisa berbahasa Indonesia, memahaminya dengan baik dan benar. Ya, jangan anggap semua orang Indonesia bisa berbahasa Indonesia. Tidak.

Anak-anak di Kampung Oja, tempat aku bertugas selama setahun, adalah satu contohnya. Bahasa ibu mereka jauh lebih kuat dibanding bahasa persatuan. Tak heran bila bahasa terkadang jadi kendala utamaku saat mengajar di SMP Negeri 3 Nangapanda. Dan inilah kisahku dengan mereka.

Hari Pertamaku Mengajar

Secara administratif, Oja berada di Kecamatan Nangapanda, Kabupaten Endo, Nusa Tenggara Timur. Sementara letak geografisnya, ada di kaki Bukit Mboaloka. Sekolah tempatku mengajar ada di atas bukit itu.

Hari pertamaku mengaiar diwarnai turunnya kabut, membungkus Kampung Oja. Membuat semua orang, termasuk aku malas beranjak. Namun, itu adalah hari Senin, yang pagi harinya dimulai dengan upacara bendera.

Pukul 06.00 waktu setempat, telah terdengar sayup-sayup senda gurau murid-murid yang mulai berdatangan. Dari dalam ruanganku, terdengar suara panggilan mereka yang riuh. "Selamat pagi Ine."

Meski tak melihatku, mereka tetap menyapaku dengan ramah. Aku bergegas, mempersiapkan diri untuk mengikuti upacara. Sementara kabut tebal masih menutup sebagian pandangan. Usai upacara, aku melihat jadwal pelajaran di meja. Ini hariku. Inilah kali pertama aku terjun sebagai tenaga pendidik di daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal. Mata pelajaran yang kuampu adalah Biologi.

"Selamat pagi, lbu...," kompak mereka berucap saat kakiku menapak di ruang kelas VII.

Kubalas dengan senyum hangat, sembari mempersilakan mereka duduk lagi. "Selamat pagi..."

Jam pertama kuhabiskan untuk berkenalan, mendekati mereka. Mengetahui sesiapa saja mereka. Barulah, Setelah suasana mencair dan semua tertawa, aku mulai masuk ke materi pelajaran. Ciri-ciri makhluk hidup, itu materi pertama yang kuajarkan pada mereka.

"Apa ciri-ciri makhluk hidup anak-anak? Siapa yang tahu boleh angkat tangan?"

Sesuatu yang tak kusangka sebelumnya, terjadi. Hampir seluruh siswa yang berjumlah dua puluh itu mengangkat tangannya dan saling berebut untuk menjawab pertanyaan. Aku sangat kagum dan senang sekali dengan keaktifan mereka. Aku benar-benar tak menyangka mereka memiliki semangat yang luar biasa. Karena begitu banyak yang mengangkat tangannya aku berusaha menenangkan dan menunjuk satu dari mereka untuk menjawab pertanyaan.

"Saya Ibu.. .saya Ibu." Mereka kembali berteriak dan aku berusaha kembali menenangkan.

"Oke.. .biar Ibu bisa dengar, Ibu minta sama yang duduk di ujung untuk jawab pertanyaan."

"Emmm... Ayam, kambing, dan sapi, Ibu," jawabnya lantang.

Aku tercengang dibuatnya. Jujur saja, aku sebenarnya ingin tertawa mendengar jawaban itu. "jawaban Yusta kurang tepat, ada yang mau mencoba menjawabnya?" kataku sambil berusaha menahan tawa.

dengan semangat yang masih menyala, mereka kembali saling berebut dan kali ini aku menghampiri seorang siswa yang bernama Asno. Dengan malu-malu ia menjawab. "Kambing, sapi, dan babi."

Tawa yang kutahan berubah jadi helaan napas panjang. Sungguh, ini tidak lucu. "Apa ada yang salah dengan pertanyaanku?" batinku.

Ternyata Mereka Tak Memahami Bahasaku

Aku bertanya-tanya dan mencoba untuk memahami mereka. Akhirnya aku meminta mereka untuk menulis apa saja yang mereka ketahui tentang makhluk hidup secara bebas dengan waktu 15 menit.

Anak-anak begitu antusias. Dengan tenang mereka mengikuti permintaanku. Ketika mereka mengerjakan tugas, iseng aku berjalan mendekati satu per satu. Ternyata setiap  siswa selalu menuliskan kalimat yang terbalik-balik. Seperti, makhluk hidup suka kasih makan.

Barulah aku paham. Saban hari mereka menggunakan bahasa daerah untuk berkomunikasi. Pantas saja masih banyak yang tak mengerti bahasa Indonesia. Setelah mengetahui biangnya, lekas kuhentikan aktivitas tulis-menulis. Aku pun berusaha mengulangi pertanyaanku dengan bahasa yang  mereka pahami. Ternyata tak mudah. Beberapa siswa nampak memahami, namun lebih banyak yang tak paham.

Dengan wajah polos mereka memandangku sambil  tersenyum. Tiba-tiba seorang siswa mengangkat tangannya.

"Ibu... Ibu saya mau bicara sebentar." Logat bahasa ibunya amat kental. Aku hanya mengangguk dan mempersilakannya untuk mengatakan apa yang ingin dikatakan. Sambil terus tersenyum anak ini belum juga berbicara.

"Ibu saya pu nama Rini, panggil sa Rini. Saya mau minta maaf sama ibu."

Aku pun mengeryitkan kening ketika anak itu bilang minta maaf. Salah apa?

"Kami tidak paham dengan ibu pu bahasa, tapi sekarang kami su paham."

Seisi kelas pun riuh oleh tawa siswa baruku di pedalaman Flores.

Aku yang tadinya bingung, hampir tak tahu bagaimana membuat mereka paham dengan bahasa Indonesia akhirnya hanya bisa tertawa melihat tingkah mereka. Terima kasih siswa-siswaku yang telah mengajariku kesabaran yang luar biasa dan tak ternilai. Semoga kalian kelak menjadi anak-anak yang sukses. (*)
Profil Penulis
Nama lengkapnya Endar Susanti. Wanita kelahiran Sarko pada tanggal 27 Maret 1991 ini adalah Sarjana Pendidikan Biologi UNY. Berasal dari Desa Laser, Merangin, Renah, Pamenang, Jambi. Endar ditugaskan mengabdi menjadi guru SM3T selama setahun di Nangapanda, Ende, Nusa Tenggara Timur.

Guru Wajib Baca! Kisah Mengharukan Seorang Guru SM3T di Pedalaman Nusa Tenggara Timur

Melanjutkan Perjuangan lbu

Oleh: Septi Sinarsih

Peta Nusa Tenggara Timur

BILA ada yang bertanya padaku, bagaimana aku melewatkan masa setahun di penempatan, berkawan dengan anak-anak di pedalaman, berbagi sedikit ilmu dengan mereka, merasakan 'nikmatnya' hidup di tanah rantau, itu semua karena ibuku. Ibu dan perjuangannya telah menguatkan langkah kaki dan semangatku untuk merampungkan masa pengabdian.

SMA S Kejora

Bersama ketiga kawanku, Azif, Pipit, dan Irsyad, aku menapakkan kaki di Riung, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur. Riung tak seudik dalam bayanganku. Semua fasilitas tersedia di sini mulai dari sinyal, listrik, air, dan fasilitas umum lainnya. Entah alasan apa yang membuat pemerintah masih melabeli Riung sebagai daerah tertinggal.

SMA S Kejora menjadi tempat pengabdianku. Kali pertama dikenalkan, rasanya kagok. Kudengar bahasa Indonesia mereka tak keruan. Secara susunan kata dan kalimat tidak sesuai dengan EYD. Saat ditanya tentang beberapa hal, aku hanya bisa menjawab seadanya. Setidaknya dengan senyum atau kata "iya". Bahkan saat berkenalan dengan siswa pun aku bingung, apa mereka mengerti bahasa Indonesiaku. Setiap aku ajak bicara, mereka sering tertawa. Padahal, menurutku ini tidak lucu. Unik memang, tapi seiring berjalannya waktu aku bisa beradaptasi dengan bahasa Indonesia-nya orang Flores.

Aku mengampu mata pelajaran Kimia. Praktikum menjadi kegiatan utama. Sayang, sekolahan ini belum memiliki bahan-bahan kimia dan peralatan praktikum yang lengkap. Kabar gembira pun datang setelah beberapa kali pertemuan. Entah mendadak atau karena aku belum tahu sebelumnya, sekolah mendapat bantuan peralatan praktikum.

Aku memanfaatkan fasilitas yang ada sembari mencari-cari alternatif percobaan yang bisa diaplikasikan di sekolah. Meski berada di daerah 3T, namun aku tetap bisa mengadakan praktikum. Keterbatasan tak menjadi penghalang untuk mengajak mereka berpraktik.

Internet menjadi andalanku untuk mencari ide percobaan yang akan kulakukan. Setelah menemukan beberapa contoh percobaan yang sesuai dengan materi aku langsung mencobanya di rumah. Bila berhasil, keesokan harinya akan kubawa ke sekolah dan kuminta para siswa mencobanya pula.

Percobaan yang aku lakukan pertama kali adalah faktor-faktor yang memengaruhi laju reaksi. Mereka sangat antusias mengikuti. Inilah yang membangkitkan semangatku untuk kembali bereksperimen pada materi berikutnya.

Kepuasanku di kelas, manakala melihat mereka melakukan percobaan dengan rasa penasaran. Artinya ada respon positif dari materi yang aku sampaikan.

Hingga datanglah kabar itu. Bak petir di siang bolong. Mengubah semangatku mendampingi anak-anak menjadi teriakan kencang, yang membuatku hilang harapan.

Kabar Duka dari Jawa

Jumat 14 Maret 2014. Aku tengah merangkai alat sederhana untuk percobaan kedua, uji larutan elektrolit. Saat itu, semangatku tengah berada di puncaknya. Beberapa kali memastikan tak ada yang terlewatkan. Semua sudah siap, percobaan di rumah, Sabtu besok aku tinggal mengajak para siswa praktikum.

Sore itu, ponsel ku berdering beberapa kali. Kuterima dan kabar buruk mengendap di telingaku. Sesaat, badan ku terasa disambar petir dan aku tak bisa melakukan penolakan apapun.

"Innalillahi wainalilahiroji’un, ibuku nggak ada," kalimat itu yang terucap seketika.

Aku menjerit sejadi-jadinya. Aku tak tahu harus berbuat apa. Di telepon, aku masih mendengar kerabat di Yogya mencemaskan keadaan ku. Barulah mereka menyampaikan ibu menutup mata sekitar pukul 12.00 WIB. Mungkin saat Matahari berada di angka dua belas.

Setelah menutup telepon, aku hanya duduk dengan pandangan kosong. Kawan-kawanku berkerumun, menenangkan diriku. Tapi tak ku hiraukan, tak acuh. Aku malah menyalahkan diriku sendiri. Tahu begini aku memilih untuk mengabdi di luar Jawa.

"Tidak usah memikirkan hal itu sekarang yang terpenting bagaimana kamu bisa pulang secepatnya," kata Azif.

Kebingungan itu juga yang melandaku sedari tadi. Apakah aku bisa pulang? Apa aku bisa menemui jenazah ibuku? Bagaimana aku bisa dapat tiket pesawat dalam waktu singkat?

Dua minggu lalu memang ada perasaan mengganjal dalam benakku, mungkin itu yang namanya firasat. Ibu mendatangiku dalam mimpi, ia mengenakan baju hitam yang mungkin sebenarnya adalah pertanda tentang kematiannya. Sepuluh hari sebelumnya, aku tak dapat kabar darinya. Aku dan ibu biasa berkomunikasi dengan pesan singkat atau telpon. Kali ini tidak. Keluargaku bilang, ibuku sedang mengikuti pendidikan dan latihan. Rupanya itu bohong. Sepuluh hari itu, ibuku terbaring di rumah sakit lantaran serangan jantung.

Keberadaan teman-teman membuatku tetap berpikir jernih. Tak hanya menguatkanku, mumbisikkan kata-kata penyemat agar aku bersabar. Mereka juga mengurus tiket travelku ke Ende. Begitu juga pak Sugeng. Ia adalah orang Jawa yang sama-sama bertugas di Riung, hanya saja berbeda tugas. Pak Sugeng punya banyak relasi yang membuatku bisa dengan mudah menggenggam tiket pesawat untuk segera pulang. Ia sudah kuanggap bapak sendiri di tanah rantau.

Tepat pukul 22.00 WITA aku menuju Bandara Hasan Aroeboesman Ende ditemani Waluyo, Mala, dan Anggi. Setiba di sana, bandara masih tutup dan tiga temanku ini masih stfia mendampingi sampai aku naik pesawat. Aku merasa sangat beruntung punya teman yang mau membantuku sampai sejauh ini. Perjalananku benar-benar diberi kemudahan, Alhamdulillah. Sesampai di Bandara Adi Sucipto, Yogyakarta sanak keluarga sudah menunggu untuk menjemput. Entah mengapa aku tidak bisa menangis. Aku hanya bisa tersenyum sembari menyapa mereka. Sesampai di rumah kulihat jenazah ibu sudah terbujur kaku. Segera aku bersiap-siap untuk mensalatkan jenazahnya. "lbu, ini bukti cintaku padamu. Aku hanya bisa mensalatkan sampai hari terakhir ini," kataku dalam hati.

Aku tak berani melihat wajahnya yang sudah terbungkus rapi meski untuk yang terakhir kali. Aku takut menangis dihadapnya, takut akan menulari keluargaku menangis lagi. Sendiri, aku menguatkan diri. Menguatkan bapak dan saudaraku lainnya. Saat upacara pemakaman, kupeluk erat bapak. Aku tahu dia tidak kuat berdiri dan aku menyemangatinya semampuku.

Karena Ibu Juga Seorang Guru

Beberapa hari kemudian, aku ingat dengan siswaku di Riung. Aku meninggalkan mereka dan mungkin saja mereka menantiku kembali. Aku berada di persimpangan. Apakah aku harus kembali dan meninggalkan keluargaku yang masih berduka atau tetap di rumah, meninggalkan anak didikku. Ujian hidup yang diberikan Allah benar-benar terasa berat. Antara keluarga dan pengabdian membuatku bimbang.

Di satu sisi, aku juga masih terikat kontrak dengan Dikti untuk menyelesaikan masa pengabdian di Riung. Saudara dan teman-temanku memberi semangat. Mereka kompak bilang, "Lanjutkan perjuangan ibu."

Kalimat itu membuatku kembali bangkit. Ya, aku harus bangkit, kembali, dan menjumpai anak-anak di Riung. Kembali berjuang bersama mereka. Kembali berjibaku, membagi ilmu pada tunas-tunas bangsa itu. Bapak yang semula tak tega melepasku, malah yang paling keras menyemangatiku.

"Ibuku memang luar biasa. Aku ingin melanjutkan perjuangannya, karena ia juga seorang guru."

Setelah dua minggu meninggalkan wajah-wajah lugu yang menghiasi Riung, aku kembali berjumpa dengan mereka. Wajah mereka nampak asing, mungkin karena beberapa hari aku tak melihatnya. Kembali aku menjadi canggung seperti pertama kali menginjakkan kaki di sekolah.

Lagi-lagi wajah muridku mengguratkan harapan yang harus kugenggam. Mereka juga membutuhkan keberadaanku. Praktikum yang dulu sempat tertunda kini kuuji cobakan. Senyum yang dulu pernah melintas di bibirku kini kembali bersemi. Ada rasa kebahagiaan tersendiri saat melihat mereka berhasil melakukan percobaan.

Bersama siswaku, aku tunaikan amanah sampai selesai di tempat pengabdian. Bersama mereka pula aku melanjutkan perjuangan ibu untuk mencerdaskan anak bangsa. Betapa indahnya skenario Allah selama pengabdianku di tanah Flores. (*)

Profil Penulis

Nama lengkapnya Septi Sinarsih. Dara yang baru pertama kali merantau jauh ini lahir di Sleman, 02 September 1990. Septi, biasa ia disapa. Berasal dari Desa Soman Selomartani, Kalasan, Sleman, Yogyakarta. Lulusan Pendidikan Kimia UNY ini setahun mengabdi menjadi gru SM3T (Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal) di Kabupaten Ngada, NTT.

Pengalaman Mengharukan Guru SM-3T di Pedalaman Nusa Tenggara Timur

Di Timur, Matahari Lebih Dulu Terbit

Oleh: Fitri Nurhayati

Pengalaman Mengharukan Guru SM-3T di Pedalaman Nusa Tenggara Timur

Anak nelayan yang kini menjadi muridku

FLORES sungguh indah. Semua pun sepakat. Satu lokasi yang tepat untuk menikmati keindahan itu ada di 17 Pulau, Riung, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur. Satu spot yang menjadi daya tarik Flores bagi siapa pun yang baru pertama kali berkunjung, seperti aku.

Satu pagi tepatnya dari ujung Dermaga Nangamese, nampak penguasa langit mulai meninggi di ufuk timur. Cahayanya kuning emas bersepuh ungu seperti campuran warna oranye dan merah di ruang yang tanpa batas. Pulau-pulau kecil yang masih keabu-abuan nampak berbaris rapi seperti menunggu sentuhan mentari secara perlahan. Ya, di timur Matahari lebih dulu terbit. Pagi selalu lebih dulu dimulai.

Saat itu desir ombak masih sangat tenang. Tak ada gelombang menciumi pantai. Berbeda dengan beberapa jam lalu, angin masih berhembus mengantarkan nelayan menepi usai melaut. Semua orang mulai sibuk dengan aktivitas masing-masing. Begitu juga aku. Pagiku telah siap untuk memulai hari bersama anak-anak nelayan yang kini menjadi muridku.

"Selamat pagi, ibu," sapaan rutin yang selalu datang dari seorang bocah berusia empat tahun.

Setelah menyapaku biasanya ia segera berlari menuju rumah untuk kembali dengan kesibukannya sendiri, bermain mobil-mobilan. Melaporkan kepada mamanya kalau ia baru saja bertemu denganku di depan rumah. Setelah itu barulah sang mama keluar dengan membawa baskom berisi sebonggol ikan. Tiap bonggolnya berisi sepuluh ikan kecil yang dijualnya dengan harga sepuluh sampai lima belas ribu.

Pagi itu perjalanan menuju sekolah sengaja kuperlambat supaya berbarengan dengan muridku, Yein, Grace, Alfridus, dan Modo. Rumah mereka berdekatan satu sama lain. Biasanya kami selalu bertemu di persimpangan jalan, kemudian sama-sama menyeberang lapangan untuk menuju sekolah. Dari jauh sudah kulihat tangan kanan mereka menggenggam sapu lidi, sedang tangan kiri menenteng ember kosong. Buku pelajaran yang selalu kusut diangkutnya ke dalam tas.

Aku tak pernah melihat gurat lelah dari wajah siswa-siswaku ini. Apalagi beberapa bulan lagi mereka akan mengikuti ujian nasional (UN). Sudah banyak persiapan yang mereka lakukan meski hampir tiap hari, ketakutan menghadapi ujian sering disampaikan padaku. Dengan gaya sok bijak aku berusaha memotivasi mereka, padahal sebenarnya terlintas juga ketakutan yang sama dalam benakku.

Yayasan Perguruan Kejora Riung, SMA S Kejora Riung. Tulisan itu sudah nampak jelas tertangkap oleh mata. Menandakan kalau beberapa langkah lagi kakiku akan menapak di pintu gerbang sekolah. Dari jalan, bangunannya memang tak nampak lantaran tertutup oleh pohon jambu mete dan mangga yang berdaun lebat. Mungkin selebat semangat mereka yang bermekaran setiap pagi.

Tanpa instruksi semua siswa telah bergegas menjalankan tugas rutin mereka dengan senjata masing-masing. Ada yang bersenjata sapu lidi, sapu ijuk, parang, ember, bahkan ada yang tanpa senjata. Memungut sampah dari tempat-tempat yang sulit dijangkau. Seperti inilah kesibukan mereka setiap pagi sebelum duduk manis di kelas mendengarkan guru berceramah.

Arlojiku sudah menunjukkan pukul 07.00 WITA. Dalam waktu bersamaan berdentang lonceng sekolah. Suaranya merasuk ke telinga-telinga yang ada di seluruh penjuru sekolah. Belum sampai lima menit semua siswa sudah berbaris rapi di halaman. Debu-debu kering bertaburan setelah mereka injak dengan kejam. Seketika udara pagi menjadi kotor.

"Selamat pagi anak-anak," suara Pak Adrianus terdengar lantang meski ia tak menggunakan pengeras suara.

Semua mata tertuju pada sosok kepala sekolah yang sedang menyampaikan amanat pagi itu. Sudah menjadi kegiatan rutin dilaksanakan apel pagi yang dipimpin oleh siswa baik putra maupun putri. Saat itu pula dengan khusyuk semua yang hadir menyanyikan puji-pujian dan memanjat doa. Kami memang berbeda dalam hal keyakinan. meski begitu aku tetap merasa bangga berada di antara mereka. Toleransi sangat dijunjung tinggi di sekolah ini.

Tidak sampai lima belas menit apel pagi selesai. Semua siswa menyerbu kelas masing-masing dengan riang gembira. Kalau melihat air muka mereka yang bahagia seperti ini, rasanya tak ingin beranjak dari nuansa pagi yang bersahabat ini.

Kekhawatiran menunggu pengumuman hasil UN

Ketakutan Yein dkk akan ujian nasional berakhir sudah. Mereka telah melewati satu tahapan sukses dalam sejarah pendidikan yang cukup menegangkan. Betapa tidak, ujian nasional selama ini dianggap sebagai tolok ukur kesuksesan pendidikan mereka. Meski sebenarnya bukan itu hakikatnya.

"Ibu guru, yang paling penting saya sudah ujian. Saya ingin sekali lulus, sudah pusing pikir pelajaran,” kata Yein.

Hari-hari di sekolah selanjutnya tak lebih dari sekadar kegiatan belajar-mengajar. Siswa kelas tiga sudah jarang datang ke sekolah usai merampungkan ujian. Sungguh hari-hari di sekolah menjadi semacam proyek tanpa akhir yang perlahan membosankan. Perasaanku menjadi tak keruan karena Sebentar lagi akan diumumkan hasil ujian. Kuingat adri persiapan awal pretest, beberapa kali try out, latihan berlembar-lembar soal tapi hasilnya masih sama. Nilai mereka masih jeblok, tidak menunjukkan progres. Kepala sekolah mengatakan, pihaknya telah berusaha maksimal untuk meraih kesuksesan dalam UN 2014.

Namun semua ketakutanku terbayar setelah mendengar kabar yang melintas dari kota, semua siswaku lulus tanpa ada yang tertinggal satu pun. Pak Adrianus bilang, sekolah kami masih sama dengan tahun lalu. Kali ini malah seorang siswa berhasil meraih nilai tertinggi tingkat kabupaten. Namanya Firman A. Laba, pelajaran sastranya dapat nilai 9,25. Bukankah itu amat membahagiakan? Belum lagi Anastasia Kio yang Bahasa Indonesia-nya dapat nilai 8,60, sedang Persia,  Sosiologi-nya 7,40. Aku buktikan, ketakutan selama ini ternyata dapat dilawan dengan perjuangan yang penuh kesabaran.

Harapan melanjutkan sekolah ke Perguruan Tinggi

Siswaku merasa puas dengan hasil ujian yang telah didapat kemarin. Meski beberapa anak mendapat nilai yang pas-pasan tapi setidaknya tetap menjadi kebanggaan. Beberapa anak mencoba peruntungan dengan mendaftar kuliah di perguruan tinggi. Sebelum pengumuman kemarin, aku sudah lebih dulu mendaftarkan sebelas anak untuk mengikuti SNMPTN. Tapi dari sebelas itu pula hasilnya nihil. Ada gurat kecewa dalam benakku.

Tak apa, kesempatan kedua masih berpihak pada murid-muridku. Kali ini ada tahapan Seleksi masuk perguruan tinggi melalui tes tertulis. Pendaftararanya dilakukan secara online. Tahap seleksinya mereka harus datang langsung ke kampus yang dipilih. Kali ini aku mendaftarkan enam siswa, tadinya sepuluh tapi mogok di tengah jalan. Kebanyakan lebih memilih bekerja atau mencari kayu bakar di hutan.

"Ibu... saya tidak jadi daftar. Nenek bilang tidak usah kuliah jauh-jauh cukup di Bajawa saja," kata Rindong, seorang muridku. Bajawa merupakan pusat kota Kabupaten Ngada  yang menjadi satu-satunya tempat paling ramai di sini.

Awalnya Rindong ingin kuliah di Yogya. Ia bilang di Yogya ada saudara yang siap menampungnya selama kuliah. Tapi neneknya tak memberi izin. Sejak kecil Rindong hanya tinggal berdua dengan sang nenek sehingga untuk melepasnya sampai ke tanah Jawa mungkin agak sulit. Mamanya sudah menikah lagi dan tinggal dengan suami baru, sedang bapak kandungnya sudah tidak pernah menemuinya lagi. Cita-cita Rindong menjadi penyanyi mungkin akan menemui jalan lain dengan cara yang berbeda. Gadis berambut panjang ini punya hobi menyanyi dan menari. Setiap ada acara di desa pasti ia tampil paling depan.

Lain cerita dengan Alfridus Kara. Anak IPA ini ingin sekali kuliah tapi terhambat masalah biaya. Masalah klasik yang dialami hampir semua orangtua yang ingin menyekolahkan anaknya. Kata Rindong, di kampung Alfridus tak ada listrik, susah air, dan tak ada sinyal. Kalau pun ada sinyal hanya di titik tertentu. Pantas saja aku telepon hasilnya nihil. Kuputuskan untuk mengirim pesan singkat, siapa tahu tiba-tiba ada sinyal lewat membawa pesanku padanya.

Sehari kemudian baru aku dapat kabar dari Alfridus, katanya ia ingin kuliah. Anak pertama dari empat bersaudara ini termasuk anak cerdas, kemarin ia juga direkomendasikan sekolah untuk ikut SNMPTN dan beasiswa bidikmisi.

"Iya ibu saya ingin ambil Kimia atau Matematika," kata  Alfridus.

Aku memintanya untuk datang ke sekolah besok siang sekaligus membawa persyaratan yang dibutuhkan. Banyak borang yang harus diisi sebagai persyaratan. Tentang data Alfridus dan keluarganya tentu aku tak tahu banyak.

"Iya ibu besok siang saya datang ke sekolah," balasnya. Beberapa dari siswaku juga sekaligus direkomendasikan untuk mendapat beasiswa termasuk Fersia, Alfridus, dan Modo. Aku menunggu Alfridus di sekolah ditemani Fersia, Modo, dan Yein. Sementara menunggu, gangguan datang dari sinyal operator yang tiba-tiba menghilang.

"Ini memang sedang gangguan dari kemarin ibu. Kemarin muncul sebentar terus hilang lagi. Sekarang malah hilang sama sekali," kata Yein yang masih belum kudaftarkan.

Siang sampai sekolah bubar, tak muncul juga batang hidung Alfridus. Katanya mau datang siang ini, tapi kalau pun ia datang tetap saja tak bisa mendaftar karena gangguan sinyal.

"Biar nanti dia datang ke rumah saja ibu," kata Yein. Aku mengiyakan sarannya. Kata Yein, rumah Alfridus memang jauh, oto hanya ada pagi hari saja. Kalau sudah ketinggalan oto maka tertinggal juga semuanya. Belum lagi jalannya yang rusak parah dan jauh. Bisa seharian di perjalanan. Akhirnya aku memutuskan pulang ke rumah, begitu juga dengan Yein. Katanya ia akan datang ke rumah nanti sore sembari menunggu sinyal telekomunikasi stabil lagi. Sinyal, bersahabatlah denganku kali ini saja siswaku sedang membutuhkanmu. Tinggal dua hari waktu pendaftaran, belum lagi mereka yang harus membayar biaya pendaftaran secara online di pusat kota.

Perjuangan menuju sepercik harapan

Pukul empat sore Yein datang ke rumah. Ia tak sendiri, kali ini sudah bersama Alfridus. Keduanya datang dengan membawa persyaratan yang harus dilengkapi. Beruntung, meski sangat pelan tapi jaringan internet kali ini mau berteman. Aku mulai mengisi borang untuk Alfridus. Ada banyak lembar yang harus dipenuhi sampai aku mendapati borang yang meminta penjelasan tentang kondisi orangtuanya. Alfridus menceritakan padaku kalau mamanya selama ini sakit. Kulitnya menguning kalau sedang kumat.

Sulung empat bersaudara ini tergolong anak yang patuh dan rajin. Aku berharap kelak ia yang akan menggantikan posisi bapaknya mengangkat derajat keluarga. Setelah mengisi borang, aku jadi tahu banyak hal tentang Alfridus. Ia layak untuk diperjuangkan. Muridku ini juga direkomendasikan untuk mendapat beasiswa kuliah, semoga ia lolos seleksi.

"Sebentar ya saya print dulu kartu ujiannya. Ini sudah jadi tidak perlu bayar biaya pendaftaran karena kamu didaftarkan beasiswa Bidikmisi," kataku.

"Iya bu," jawabnya sangat menurut. Aku sekaligus memberikan latihan soal yang dapat ia pelajari sebelum mengikuti tes. Nampak dari wajah Alfridus sepercik harapan yang ia gantungkan entah pada siapa. Sedang harapanku menggantung padanya.

Berawal darimu, sukses akan lebih dulu diraih

Guru SM3T Fitri Nurhayati Bersama Muridnya Yein

Dua minggu kemudian mereka harus sudah ada di Kupang untuk mengikuti seleksi tertulis. Bertolak dari Pelabuhan Aimere menggunakan kapal feri menuju Pulau Timor, Kupang lebih tepatnya. Aku sangat menggantungkan harapan pada mereka, setidaknya satu dari mereka semoga ada yang lolos.

"Doakan kami ibu biar bisa kerja soal," pesan singkat itu serentak membanjiri ponselku secara bersamaan.

Sebulan berlalu begitu saja. Sampailah waktunya untuk melihat pengumuman hasil tes mereka. Pagi hari mama Yein menghadangku di lapangan menuju sekolah. Dari jauh ia berteriak memanggil.

"Ibu guru bagaimana hasil tes punya anak saya?" kata dia dengan suara keras khas orang Flores.

"Pengumumannya nanti sore Mama. Biar nanti saya kabari anak-anak," jawabku dengan teriakan dari jauh.

Lagi-lagi jaringan internet yang manja menjadi hambatan bagiku untuk melihat pengumuman. Sudah kucoba berulang-ulang tapi hasilnya masih nihil, jaringan error.

"Bagaimana ibu ini sudah lewat jam lima," begitu pesan singkat di ponsel.

Aku membuka satu per satu akun siswaku. Mulai dari Alfridus, Fersia, Modo, dan semua yang kudaftarkan. Hasilnya mereka belum beruntung, tidak lolos seleksi. Aku menyerah untuk satu nama terakhir, akhirnya kuputuskan antuk meninggalkan laptop. Rasa penyesalan tiba-tiba datang, otakku menjadi panas dan lebih dulu aku mendinginkannya dengan doa. Kebetulan waktu itu bertepatan dengan bulan Ramadan, jadi kuputuskan untuk salat tarawih terlebih dahulu.

Ponsel berdering lagi. Kali ini bukan SMS, tapi panggilan telepon dari Yein. Aku tak mengangkatnya karena hanya pengumuman miliknya yang belum kubuka. Pasti mamanya sudah banyak berharap sedari tadi. Pikiranku sudah mulai tenang dan siap membuka akun yang terakhir, milik Yein. Mengejutkan dan ini yang diharapkan. Ia lolos seleksi dan diterima kuliah di Kupang, jurusan olahraga. Menjadi guru olahraga adalah cita-cita keduanya setelah mengurungkan niat menjadi Polwan. Ia takut dengan seleksi masuk Polwan, jadi dipilihlah jurusan olahraga.

Mimpi indah seperti baru saja menyenggolnya dan tentu saja menyenggolku. Aku segera membalas pesannya yang sedari tadi kubiarkan. Mamanya langsung meneleponku memastikan kebenaran kabar ini. Melalui telepon, aku seperti mendengar teriakan kencang dari banyak orang yang sedang berkumpul. Mungkin keluarga Yein sedang berteriak kegirangan. Selamat Yein, kau akan jadi mahasiswa. Cita-cita jadi guru olahraga sudah ada di depan mata. Berawal darimu, sukses akan lebih dulu diraih. (*)
Profil Penulis
Akrab disapa Pipit. Wanita yang gemar menulis ini menyelesaikan gelar sarjananya di Universitas Muhammadiyah Purwokerto jurusan Geografi. Merasa terpanggil untuk berbagi ilmu dengan tunas-tunas bangsa di pelosok negeri, ia rela melepas profesinya sebagai wartawan lokal di sebuah media cetak. Wanita asal Banjarnegara ini lahir pada 1 Mei 1991. Setahun ia bertugas menjadi pendidik (guru SM3T) di kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur.

Kisah Pengabdian Seorang Sarjana Pendidik di Pedalaman Flores Timur

Patriot Kecilku, Kiong

Oleh: Khoirun Nisa

Foto Bersama Anak-anak TPA Flores Timur

Kiong, Najwa dan Rinda

“Hihihi…”

Terdengar suara tawa kecil yang malu-malu. Terlihat kepala-kepala kecil tiga anak mengintip dari jendela didekat televisi. “ibu… assalamualaikumm…..” dengan khas suara anak-anak. Siapa lagi kalau bukan anak-anak TPA kami.

Aku bersama dua orang temanku, ditempatkan di desa Puhu, kecamatan Adonara Timur, Pulau Adonara kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur. Untuk mencapai daerah tersebut diperlukan waktu sampai 1 setengah jam dari dermaga penyebrangan Pulau Adonara. Desa yang sangat asri, damai, membuatku sadar bahwa anggapan ku selama ini tentang NTT yang gersang adalah salah. Tidak semua tempat seperti itu, terbukti saat subuh, ku hembuskan nafas dari mulutku maka akan keluar uap putih yang terlihat jelas, senang sekali pikirku seperti di film Winter Sonata, drama Korea yang pernah ku tonton, namun tidak untuk ujung kaki dan tanganku, brrrr… pucat dingin.

Mereka biasa datang bermain ke tempat kami, setelah shalat Ashar. “Yang lain kemana?” tanyaku ketika melihat mereka hanya bertiga, yaitu Kiong, Najwa dan Rinda. “main bu” menjawab sekenanya. “siapa yang adzan tadi?”tanyaku pura-pura tidak tau, karena aku kenal betul suara khas kiong saat adzan. 2 teman nya serentak menjawab sambil menunjuka kea rah yang disebut ”kiong bu”, sedangkan yang ditunjuk tersipu malu. Begitulah memang keadaannya disini. Orang dewasa bekerja di kebun sampai menjelang maghrib, sehingga saat dzuhur ataupun ashar tidak ada yang adzan. TPA saat peringatan tahun baru islam mengadakan lomba adzan, dan semenjak saat itu, anak-anak tidak malu lagi untuk adzan dengan suara yang keluar dari speaker dapat didengar oleh masyarakat sekampung, bahkan terkadang di waktu maghrib dan Isya mereka berebut untuk adzan .

“Ibu sedang apa”, tanya Najwa yang akrab di panggil Wawa, sang juara di kelas 4 SDN 1 atap Tapobali. “Sedang membuat bros”, jawab temanku. Kebetulan saat itu kami sedang mengisi waktu luang dengan memanfaatkan kain sisa jahitan mama (ibu asuh) untuk dibuat bros. Mama adalah penjahit terkenal, karena satu-satunya di desa kami. Masyarakat disini sering meminta mama untuk dibuatkan kebaya, sehingga kain siswa yang ada pun berwarna-warni. Takzim mereka melihat kami membuat pola, menggunting dan menjahitnya hingga menjadi bros. “bu saya mau coba”, Rinda yang saat itu duduk kelas 6 SD bersemangat ingin mencoba. Kiong juga tak kalah semangat, Najwa pun menanyakan untuk apa Kiong membuat bros. “untuk seseorang” jawabnya apa adanya datar.

Kiong yang Rajin Adzan di Mesjid

Bagiku Kiong adalah anak yang luar biasa. Dia anak yatim, ayahnya meninggal saat ia masih kecil. Ia adalah anak bungsu dari  9 bersaudara. Lahir dari anak yang kurang mampu, sehingga setelah ayahnya meninggal, ibunya tidak mampu merawatnya sehingga ia ditinggal oleh ibunya, dan tinggal bersama kakek neneknya. Hanya dia yang ditinggalkan, sedangkan kakak-kakaknya dibawa oleh ibunya. Entahlah apa yang dipikirkan oleh ibunya.

Kiong begitu rajin ke masjid dan belajar mengaji ba’da maghrib. Kebetulan aku yang memegang kelompok Quran besar, dan kiong adalah salah satu muridku. Muridku yang selalu ingin duduk disampingku atau tepat dihadapanku. Ia sangat senang apabila mendapat perhatian, dan selalu meminta agar ia sebagai giliran pertama dalam mengaji. Dia anak yang cukup cerewet untuk ukuran anak lelaki. Apabila dia sudah mengomel panjang, aku memanggil namanya dengan halus, maka ia dengan segera mencium tanganku dan menyengir meminta maaf.

Pernah aku bertanya padanya, saat duduk berdua di masjid sedangkan anak lainnya sedang bermain menunggu waktu adzan isya, “Kiong kangen tidak sama mama?” matanya langsung melihat-lihat kearah lain menunjukkan tidak ingin fokus memikirkan pertanyaan tersebut. Namun bola mata dan ekspresi wajahnya tak dapat ditutupi, ia sedih, kemudian terlihat anggukan kecil dari kepalanya. “Kapan terakhir ketemu sama mama?” ia mencoba mengingat-ingat namun tak juga keluar satu kata darinya. Aku ingin bertanya tentang ayahnya dulu orang seperti apa, kenangan apa yang paling diingat bersama ayah, namun aku tak tega melihat ia semakin bersedih jika ditanya tentang hal itu. Saat itu aku berpesan padanya untuk shalat 5 waktu dan belajar yang rajin, sering membaca Al-Quran dan selesai shalat doakan bapak serta ibu. “Doa untuk orang tua hafalkan?” aku bertanya sambil menatap matanya yang berkaca-kaca. Dia mengangguk kecil. Aku mengelus kepalanya, dan memintanya adzan, karena sudah masuk waktu shalat isya.

“Ibu setelah ini diapakan?” Najwa hampir menyelesaikan brosnya yang berwarna merah marun. Kami pun membantu mereka hingga masing-masing selesai membuat satu bros. “bu cantik kan?” tanya Rinda sambil mencoba bros warna pink dipasang di bajunya. Kiong juga sudah selesai walau hasilnya kurang rapi. Kami tersenyum bangga, telah mengajarkan 1 keterampilan, walaupun tidak tau, apakah ke depannya berguna bagi mereka.

Bros yang kami buat saat waktu luang

Bros yang kami buat saat waktu luang

Merekalah yang Akan Membawa Perubahan

Matahari pulang kearah barat dengan menunjukkan gradasi warna indah khas sore harinya, memberikan pertanda bagi setiap orang bahwa malam akan segera tiba, memberikan waktu istirahat setelah seharian tubuh bekerja keras di kebun. Mereka satu persatu berpamitan pulang, menyalami kami satu persatu. “Bu, ibu ke masjid kan?” Kiong bertanya sambil menyalami tanganku.  “Insha Allah”, jawabku. Masih memegang tangannya aku berkata lembut, “Kiong… nanti kalau ibu bertiga sudah pulang ke Pontianak, kamu harus tetap menggaungkan suara adzan di masjid dan di kampung ya, ajak semua teman-teman muslim untuk shalat dan mengaji di masjid”, pintaku penuh harap padanya. Ia pun mengangguk dengan penuh percaya diri, optimis bahwa dia bisa melakukannya, walau nanti kami tidak berada di kampung tersebut. “Jangan lupa adzan kiong” teriakku saat mereka sudah berlari beberapa meter dari rumah kami.

Foto bersama anak-anak TPA

Foto bersama anak-anak TPA

Semoga generasi yang saat ini kami didik bisa sebagai generasi terbaik yang pernah ada di kampung ini, 20 tahun kedepan merekalah yang akan membawa perubahan kampung ini menjadi lebih baik. Kami menaruh harapan besar pada kalian, termasuk kamu patriot kecilku, kiong. Bisikku dalam hati sambil berjalan masuk ke rumah untuk bersiap-siap mandi dan berangkat ke masjid. (*)
Profil Penulis
Nisa atau kerap dipanggil bu carik. Pemilik hobi membaca dan travelling ini lahir di Nusapati, 10 Mei 1991. Lulusan sarjana pendidikan di UNTAN, jurusan Pendidikan Kimia. Asalnya dari Desa Sungai Pinyuh, Mempawah, Kalimantan Barat. Nisa pernah menyabet prestasi sebagai Mapres Tingkat Kopertis se-Kalimantan. Wanita yang dulu ditugaskan mengajar dan mendidik di Flores Timur ini juga pernah menjadi Marketing Patria Education. Ia selalu berusaha agar keberadaannya bermanfaat bagi banyak orang.

Kisah Seorang Sarjana Pendidik di Pedalaman Malinau Kalimantan Utara

Lebih Memilih Gaharu daripada Ilmu

Oleh: Amin Fitriyah

Perjalananku menuju lokasi penempatan (SM3T)

 

Perjalananku menuju lokasi penempatan (SM3T)

Sejauh mata memandang hanya hijau nan rimbun. Semak belukar yang rapat dengan berbagai jenis vegetasi hutan hujan tropis yang beragam. Itulah yang tergambar saat menyusuri sungai di pedalaman Kalimantan. Kiri dan kanan tak luput dari pohon liana yang memanjat. Berbagai jenis fauna oriental kerap menampakkan diri, seperti babi hutan, kera, burung enggang, dan lainnya.

Letak sekolah kami berada di hulu Sungai Mentarang, tepatnya Desa Long Berang, kecamatan Mentarang Hulu, Kabupaten Malinau, Kalimanlan Utara. Berada di dataran yang lebih tnggi. Transportasi untuk menuju lokasi ini hanyalah menggunakan perahu kayu seperti Iongboat dan ketinting. Tak ada jalur darat, jadi jangan bayangkan motor, bus, apalagi mobil. Motor pun hanya ada satu atau dua yang dimiliki oleh petugas kecamatan.

Terbatasnya akses menyebabkan jumlah penduduk yang mendiami lokasi ini bisa dihitung. Kebanyakan yang tinggal adalah penduduk asli Suku Dayak Lundayeh. Daerah ini sangat terisolasi, yaitu di pedalaman hutan Kayan Mentarang. Jauh dari peradaban kota Kabupaten Malinau.

Perjalanan menuju Long Berang, harus kami tempuh sekitar enam jam. Selama perjalanan aku harus melewati dua giram yang besar yaitu giram Kayan dan giram Belalau. Giram adalah sejenis jeram batu-batuan yang sangat besar. Setiap melewati giram, perahu harus melawan derasnya arus sungai. Selain itu, goncangan dan gesekan batu-batuan besar yang menghalang. Jika kondisi debit air sungai kecil, maka perahu longboat dan ketinting harus ditarik. Sebagian penumpang harus turun dan berjalan melewati pinggir-pinggir sungai. Begitulah cerita perjalananku menuju lokasi penempatan Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal (SM-3T).

Listrik menyala itu pun kalau ada bensin

Semburat cahaya fajar, mengintip dari balik bukit berhutan. Aku menyukai suasana pagi seperti ini, damai berkabut dan sejuk. Sudah hampir tiga bulan aku bertahan. Mengemban tugas mulia, yaitu mengajar dan mendidik. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya, aku bisa sampai di pedalaman Kalimantan Utara. Hidup di tengah-tengah suku Dayak Lundayeh yang memiliki adat dan kebiasaan yang identik.

Secara geografis, Desa Long Berang berada di pinggir Sungai Mentarang. Diapit oleh dua bukit hutan hujan tropis yang lebat. Keberadaan Desa Long Berang yang jauh dari Kota Malinau membuat minimnya berbagai fasilitas. Tak ada listrik sehingga masyarakat banyak yang mengusahakannya dengan genset. Sebelumnya ada PLTA namun sering terjadi kerusakan dan tidak pernah ada usaha perbaikan dari pemda.

Setiap hari kami hanya menikmati listrik dari pukul tujuh sampai sepuluh malam. Itu pun diperoleh saat memiliki stok bensin. Bila tidak ada persediaan minyak bensin, gelaplah sudah. Asal tahu saja, premium dijual lima belas ribu rupiah per liter, itu pun harus berebut dengan pembeli lain. Saat stok langka bisa sampai tujuh belas ribu rupiah per liter. Untung saja di Long Berang tak ada transportasi darat, jadi kemana-mana cukup jalan kaki dan tidak butuh bensin. Semisal kami ingin mencari pakis di hulu atau hilir sungai tetap harus menggunakan perahu ketinting milik siswa dan mengganti uang bensin.

Aku ingat, saat di Jawa, kami tak pernah dipusingkan dengan keberadaan listrik. Maklum, listrik mengalir dua puluh empat jam non-stop. Bahkan hampir tidak pernah ada pemadaman yang lebih dari dua jam. Ketika listrik mati biasanya ada peristiwa langka yang unik. Biasanya anak-anak kecil bisa membuat bayangan hewan-hewan di dinding dengan cahaya lilin, yaitu dengan membuat burung terbang, rusa, anjing, dan lainnya.

Jembatan kayu pengharapan yang putus

Tanpa bensin, aku bisa asyik berjalan kaki menelusuri Long Berang bersama siswa-siswaku. Jalan kaki pergi ke sekolah, ke rumah siswa, atau sekadar mengisi waktu luang dengan bertandang ke rumah warga. Kami melintasi jembatan sebagai satu-satunya jalan yang menghubungkan sekolah dengan kampung Long Berang. Namun keasyikan itu terpaksa  terputus bersamaan dengan putusnya jembatan. Sekali putus repotlah semua orang.

Putusnya jembatan kayu pengharapan ini membuat repot semua orang. Kami sebagai warga sekolah juga mengalami kesulitan ketika akan belanja menuju ke kampung, karena toko kelontong sebagai pemasok logistik di Long Berang hanya ada di kampung. Sehingga kami harus jalan naik bukit, hanya untuk sekadar belanja minyak tanah dan kebutuhan logistik yang mendesak.

Harapanku, jembatan ini akan segera diperbaiki menggunakan dana desa maupun kecamatan. Kalau menunggu gotong-royong dari warga sepertinya sulit karena tak ada yang menggerakkan. Padahal kayu ada di mana-mana dan bisa didapat dengan mudah.

Perjalanan ke sekolah menggunakan perahu

Sebenarnya di Malinau sudah ada perencanaan pembangunan jalan untuk jalur darat yang akan menghubungkan daerah-daerah Long pedalaman. Tahapannya sudah sampai pelaksanaan. Sayang, harus membabat hutan, memangkas bukit berhutan untuk dialihkan menjadi jalan. Jembatan yang sudah dibangun juga tak bertahan lama karena sering terjadi banjir dan longsor akibat hujan lebat. Alhasil jembatan terputus.

Saat ini, jembatan satu-satunya penghubung jalan sekolah dengan kampung Long Berang juga putus dan mengalami kerusakan, sehingga para siswaku kesulitan untuk ke sekolah. Sebelumnya, saat jembatan bisa dilalui pun banyak siswaku yang malas turun ke sekolah, terlebih dengan adanya jembatan putus. Beruntung masih ada beberapa anak yang rela menggunakan perahu ketinting untuk menyeberang. Biasanya pejalan kaki yang menghindari jembatan putus mencari alternatif lain dengan melewati bukit tinggi yang curam. Ah, semoga momen ini bisa memberi pelajaran kepada anak-anak di sini agar mau belajar dan bekerja keras.

Sebenarnya, jumlah muridku ada delapan anak. Namun tak semuanya datang. Kadang hanya empat sampai enam anak yang mau turun ke sekolah setiap harinya. Ini sungguhan. Setiap hari aku hanya mengajar murid kurang dari sepuluh orang, semacam les privat. Di daerah pedalaman, semangat belajar dan mengenyam pendidikan amat rendah. Mereka lebih memilih untuk masuk hutan dan mencari kayu gaharu, daripada belajar di bangku sekolah, memegang pensil dan membaca buku.

Kayu gaharu yang super mahal

Sebagian besar mata pencaharian penduduk di Desa Long Berang adalah pencari kayu gaharu. Hitungan perolehan kayu gaharu per kilogram. Satu kilogramnya bisa mencapai lima puluh juta rupiah untuk gaharu super. Selama penempatan, aku belum pernah melihat secara detil seperti apa bentuk dan isi kayu gaharu yang harganya luar biasa mahal itu. Jika masyarakat di sini ditanya apa manfaat kayu gaharu, mereka menjawab tidak tahu. Yang mereka tahu, jika banyak memperoleh kayu tersebut, mereka bernasib mujur karena pasti akan memperoleh penghasilan hingga puluhan juta bahkan ratusan juta rupiah.

Proses pencarian kayu gaharu dilakukan dalam waktu satu bulan di hutan, bahkan hingga berbulan-bulan. Usaha pencarian juga tak termasuk mudah, karena harus membawa logistik bahan makanan seperti beras, bumbu-bumbu, dan alat masak secukupnya. Sang pencari gaharu harus membawa perbekalan yang cukup berat untuk bertahan hidup selama di hutan.

Orang Dayak Lundayeh sudah terbiasa hidup di hutan. Hewan buas di hutan sudah tak jadi masalah. Justru berbagai binatang tersebut, mereka buru untuk dimakan. Alat perburuan seperti tembak beserta pelurunya, parang/ mandau, tombak, pisau merupakan senjata vital yang harus selalu dibawa.

Pencarian kayu gaharu biasa dilakukan secara berkelompok dan rata-rata usia mereka dalam kategori pemuda. Ada juga usia remaja yang ikut mencari kayu gaharu di hutan dan tentunya, laki-laki. Mereka bilang, proses pencarian kayu gaharu dengan sebutan ngusa. Pencarian ini sangat berat dan melelahkan. Namun, itu tak jadi kendala berarti bagi si pencari. Jika nasib baik memayungi, dalam waktu pencarian kurang dari satu bulan, mereka bisa memperoleh kayu gaharu beberapa kilogram. Karena pencarian gaharu ini dilakukan secara berkelompok, mereka menggunakan sistem bagi hasil setelah menjualnya.

Sayangnya, setelah berhasil memperoleh hasil penjualan gaharu hingga ratusan juta, mereka suka hura-hura dan tidak bisa memanejemen hasil pendapatan dengan baik. Mereka akan berpesta minuman keras dam foya-foya. Mereka, para pencari gaharu yang tak mau bersekolah jarang berpikir jangka panjang, apalagi menabung. Itu sangat disayangkan.

Aku tak ingin kata menyesal ada di kamus mereka

Dua anak didikku ada di kelompok para pencari gaharu. Namanya Fenry dan Jekson. Mereka tak pernah berangkat sekolah. Pernah sekali kutemui wajah Fenry di sekolah. Setelah itu, tak pernah aku temui lagi batang hidungnya.

Aku ingin sekali menyampaikan, kayu gaharu yang mereka cari pasti akan habis dan punah. Tak demikian dengan ilmu yang dipelajari. Namun, apalah daya kalau mereka lebih memilih gaharu daripada ilmu. Sekali mereka pernah mendapatkan uang hingga puluhan bahkan ratusan juta, pasti mereka tidak mau melanjutkan belajar. Mungkin yang ada di benak mereka sekarang ini, apa gunanya sekolah, bila masuk hutan saja bisa menghasilkan uang.

Saat ini, tubuh mereka masih terlihat kuat. Namun, apakah selamanya akan kuat hingga senja menyapa? Di usia empat puluhan, kondisi fisik tubuh mulai menurun. Ini yang ingin aku tekankan, betapa pentingnya ilmu yang sejatinya harus dipelajari. Aku tak ingin kata menyesal ada di kamus mereka. Seperti yang Imam Syafii katakan: Jika kau tidak tahan akan lelahnya belajar, maka kau akan menanggung perihnya kebodohan sepanjang hidupmu. (*)
Profil Penulis
Nama lengkapnya Amin Ftriyah. Dara kelahiran Bantul, 2 mei 1990 ini biasa disapa Amin. Pernah menjadi Operator Call Center SNMPTN 2012-2013. Sarjana Pendidikan Geografi UNY ini berasal dari Panjang, Panjangrejo, Pundong, Bantul, Yogyakarta. Setahun Amin ditugaskan untuk mendidik dan mengajar di Long Berang, Malinau, Kalimantan Utara.

4 Tips Berikut Bisa Meningkatkan Kemampuan Belajar Anda

Meningkatkan Kemampuan Belajar

Tips Meningkatkan Kemampuan Belajar

SumberBacaanku.Com - Belajar merupakan salah satu kegiatan dalam mencari ilmu atau menambah pengetahuan kita. Aktivitas dalam belajar itu bisa berupa kegiatan membaca, menulis, atau dari kegiatan sebuah permainan, jalan-jalan dan lain-lain yang dapat mengumpulkan dan memberi berbagai informasi yang kemudian kita cerna dan dijadikan sebagai bahan referensi.

Seringkali kegiatan belajar menjadi proses yang memberatkan. Pasti pembaca semua pernah merasakan hal tersebut. Nah proses belajar itu ada ilmunya. Kita harus belajar bagaimana caranya meningkatkan kemampuan belajar kita serta menentukan metode belajar apa yang sesuai untuk kita, karena setiap orang sebenarnya memiliki metode belajar favorit yang berbeda-beda.

Metode belajar yang mudah dipahami tentunya akan memudahkan kita dalam mempelajari sesuatu. Maka dari itu carilah metode-metode belajar yang sesuai dengan Anda serta mudah untuk melakukannya. Adapun beberapa cara di bawah ini yang bisa Anda gunakan sebagai cara alternatif untuk memudahkan anda dalam proses belajar:

Buatlah catatan kecil untuk membantumu belajar lebih terarah

Tulislah hal-hal yang perlu kamu ingat atau pelajari dalam sebuah kertas kecil. Catatan kecil ini dapat kamu bawa kemana-mana sehingga kamu bisa belajar dimana saja tanpa repot membuka buku dan mencari lagi topik yang harus kalian pelajari. Dengan begini, proses belajar kalian menjadi lebih terarah.

Bagilah waktu belajar menjadi beberapa langkah

Terkadang ada kalanya kamu harus belajar terus dalam waktu yang lama demi menguasai satu mata pelajaran. Daripada memforsir tenagamu untuk tancap belajar tanpa henti, lebih baik bagi waktu belajarnya menjadi beberapa bagian. Misalnya, kamu membutuhkan waktu kira-kira 6 jam untuk belajar. Bagilah waktunya menjadi 1 jam per-sesi hingga 6 kali atau bisa juga 30 menit per-sesi hingga 12 kali. Manusia cenderung menyerap pelajaran lebih baik dengan waktu belajar yang lebih pendek.

Menggunakan media lain untuk membuat suasana belajar lebih efektif

Strategi lainnya adalah untuk menggunakan media/cara lain untuk belajar. Selain membaca Anda juga bisa mencoba metode belajar yang lain. Misalnya: menonton video yang berkaitan dengan pelajaran Anda atau bisa juga merekam suara Anda sendiri mengucapkan topik-topik pelajaran lalu Anda dengarkan rekamannya untuk menghafal dan belajar. Banyaklah berimprovisasi hingga Anda menemukan metode yang paling sesuai untuk Anda, karena bila sudah klop dengan satu metode maka proses belajar tidak akan menjemukan lagi.

Mintalah bantuan orang lain

Ketika sedang belajar, catat hal-hal yang kalian tidak mengerti. Kemudian, tanyakan hal  tersebut kepada guru, orang tua, teman atau siapapun yang mungkin bisa membantu menjelaskan atau mengajarkan hal tersebut kepada Anda. Karena itu jangan malu-malu bertanya, daripada sesat di kemudian hari.

Selain itu Anda juga bisa meningkatkan kemampuan belajar dengan menggunakan metode terapi. Metode terapi belajar yang digunakan adalah model terapi Binaural Beats Accelerated Learning. Terapi ini merupakan terapi yang dirancang khusus untuk meningkatkan kemampuan belajar. Bahkan model terapi ini telah banyak digunakan oleh masyarakat luas pada umumnya. Terapi Binaural Beats Accelerated Learning ini telah teruji keefektifannya, karena telah dilakukan riset terlebih dahulu selama bertahun-tahun. Terapi Binaural Beats Accelerated Learning menggunakan gelombang otak (Brainware) yang digabungkan dengan visualisasi diri. Penggabungan visualisasi diri dengan gelombang otak (Brainware) akan masuk ke dalam pikiran bawah sadar kita, sehingga hal ini dapat memudahkan kita untuk meningkatkan kemampuan belajar. Dalam artian otak merupakan pusat utama dalam aktivitas dan kemampuan manusia, terutama pada pikiran bawah sadar. Ketika kita bisa memaksimalkan kinerja bawah sadar, maka akan terasa sebuah perubahan yang cukup besar pada hidup kita.

Itulah 4 tips untuk meningkatkan kemampuan belajar kita. Semoga bermanfaat ya!